Mengenai listrik, ada dua jenis arus utama – Arus Bolak-balik (AC) dan Arus Searah (DC). Keduanya mengacu pada cara elektron mengalir melalui konduktor.
120V (volt) adalah tegangan standar untuk sebagian besar peralatan rumah tangga dan elektronik di Amerika Serikat. Namun, terdapat perbedaan signifikan antara 120V AC dan 120V DC yang memengaruhi cara penggunaannya.
Daya AC, yaitu jenis arus yang disuplai oleh jaringan listrik, berubah arah secara berkala. Artinya, elektron berpindah arah dan mengalir maju mundur, bukannya bergerak dalam garis lurus. Frekuensi gerakan bolak-balik ini diukur dalam Hertz (Hz), dan di AS biasanya 60Hz. Daya AC lebih disukai untuk mentransmisikan daya dalam jumlah besar dalam jarak jauh, karena lebih efisien dan dapat dengan mudah dinaikkan atau diturunkan tegangannya menggunakan transformator.
Sebaliknya daya DC selalu mengalir dalam satu arah dari sumber listrik ke beban. Artinya elektron bergerak dalam garis lurus, itulah sebabnya daya DC digunakan untuk elektronik dan peralatan kecil dengan kebutuhan daya rendah. Contoh perangkat bertenaga DC termasuk pengisi daya ponsel, lampu LED, dan baterai.
Dari segi keamanan, daya DC umumnya dianggap lebih aman dibandingkan daya AC. Hal ini karena daya DC kecil kemungkinannya menyebabkan sengatan listrik bila disentuh secara tidak sengaja. Namun, daya DC bisa lebih berbahaya dalam situasi tertentu, misalnya bila menggunakan daya DC dalam jumlah besar, misalnya pada kendaraan listrik atau bank baterai berukuran besar.
Kesimpulannya, meskipun 120V AC dan 120V DC dapat digunakan untuk memberi daya pada perangkat rumah tangga, keduanya memiliki perbedaan yang jelas dalam cara pembangkitan, transmisi, dan penggunaannya. Oleh karena itu, penting untuk memahami jenis arus yang diperlukan untuk aplikasi spesifik Anda.
